Senin, 12 September 2011

Kumpulan Kata mutiara Untuk Ibu


Ibu, aku mencintaimu Untuk semua yang Anda lakukan. Aku akan menciummu dan memeluk Anda "Karena kau mencintaiku juga. Anda makan saya dan perlu saya Untuk mengajarkan Anda untuk bermain, Jadi tersenyum karena aku mencintaimu Pada Hari ini Ibu. Ibu, aku mencintaimu ...
* Saat indah Begitu banyak yang kami habiskan bersama, tahun yang indah begitu banyak di semua jenis cuaca, memikirkan ibu u membawa kenangan dalam pikiran, saat indah saya akan harta karun, ini gve u saya tulus thats mengapa ibu saya, I love u begitu mahal Selamat Hari Ibu Ibu terkasih ...
* Apa hati memberikan diri tidak pernah hilang, namun disimpan di hati orang lain, dari senja hingga fajar. Mencintaimu dari inti hati saya. Selamat Hari Ibu ...
* Ibu adalah cinta sejatinya, Sebuah cinta yang luar biasa, yang Anda mengambil masalah Anda, dia adalah salah satu yang benar-benar peduli. Ibu Anda semua ini dan lebih, aku mencintaimu sangat ...
* Menjadi seorang ibu yang hebat adalah peran yang sangat keras, tapi ibu kau bintang untuk yang satu ini aku tahu, aku mencintaimu Ibu. Selamat Hari Ibu ...
* Kasih dia telah jauh di dalam hatinya, Selalu memberi saya mulai melompat yang baik, Dia adalah orang yang yang cinta sejati, Terima kasih Ibu u karena u ...
* Tidak ada kata-kata yang mengatakan thanku cukup untuk semua yang anda lakukan untuk saya sementara saya tumbuh dewasa. Saya benar-benar menghargai Anda dan mengagumi Anda sangat banyak, meskipun aku selalu nggak mengungkapkan diri sendiri bahwa aku akan selalu InTouch, saya rasa itu mengapa kita memiliki hari-hari khusus, sehingga masyarakat seperti saya dapat mengatakan bahwa mereka akan mencintai kamu selalu. Selamat Hari Ibu Ibu Saya Lucu ...
* Terima kasih ibu untuk semua yang Anda lakukan, saya tahu terima kasih yang jauh untuk beberapa, aku benar-benar mencintaimu aku nggak mengatakan cukup, bagi saya kata-kata benar-benar sulit, aku berharap aku bisa mengungkapkan semua yang saya rasakan, tapi bagi saya Anda tahu thats masalah besar, Memiliki hari yang baik saya berpikir dari Anda, saya berharap perasaan saya mendapatkan melalui. Selamat Hari Ibu ...
* Ketika Anda merasa sendirian dalam keramaian, ketika Anda berpikir tidak ada yang bisa mengerti Anda, ketika Anda berpikir cinta Anda ditolak oleh orang lain, dan ketika Anda membenci hidup anda hanya menutup mata Anda dan berpikir tentang dia yang mencintai Anda benar-benar, peduli untuk Anda dalam kesepian Anda, meninggal ketika Anda menangis, dia ada orang lain tetapi Anda IBU ...
* Untuk ibu terbaik yang selalu memiliki senyum untuk saya, saya tahu kita mungkin berjauhan sekarang Jadi, inilah pelukan besar besar dan mencium Hari Ibu Happy ...
* Anda pernah melihat saya tertawa Anda pernah melihat saya menangis dan selalu kau ada di sana dengan saya ... Saya mungkin tidak selalu mengatakan itu Tapi terima kasih dan aku mencintaimu Hari Ibu Happy ...
* Banyak pelukan Hanya luv tidak pernah marah padaku Pengajaran Membantu saya tersenyum Setiap saat aku sedih Meningkatkan aku harus kuat Ini mantra Ibu. Terima kasih untuk menjadi dirimu ...
Hari Ibu * Selamat berarti lebih dari bunga dan hadiah ... Itu artinya mengucapkan terima kasih. Ini berarti aku mencintaimu ... Anda adalah ibu saya, teman saya Hari ini adalah hari Anda ...


Perubahan Dalam Hidup

Perubahan Dalam Hidupku
Bermulai dari saat diriku di tinggal oleh seseorang perempuan, hidupku bagaikan agin yang tak tentu arah, tak ada seorang pun yang dapat membuat ku tersenyum dan memeahami diriku kecuali kakak ku ( seseorang yang ku rahasiakan ), beliau kakak kelas ku dari SMP sampai SMK, kk ku selalu mensuportku, yang jelas memecahkan masalah ku,beliau adalah kk +teman yang terbaik dalam hidupku. ku tak tau bagaberterima kasih yang penting hanya allah lah yang dapat membalasnya.
Hari demi hari,ku telah dapat mengerti bahwa cinta ku tak dapat ku miliki. untung kk ku yang dapat membantu ku ,,ntah bagi manacaranya aku tak tahu,,,
thanks kk ku,,,

Minggu, 11 September 2011

Pesan Ibu


Kamis, 29 Oktober 2009


Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue Om, masih hangat dan enak rasanya!"
"Tidak Dik, saya mau makan nasi saja," kata si pemuda menolak.
Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.
Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, "Tidak Dik, saya sudah kenyang."
Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om."
Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya."
Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran.
Si pemuda memperhatikan dengan seksama. Dia merasa heran dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?"
"Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu."
Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh." Si anak pun segera menghitung dengan gembira.
Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu."
Walaupun tidak mengerti tentang pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu sambil berucap, "Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami."
===================================================
Ini sebuah ilustrasi tentang sikap perjuangan hidup yang POSITIF dan TERHORMAT. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.
Jika setiap manusia mau melatih dan mengembangkan kekayaan mental di dalam menjalani kehidupan ini, lambat atau cepat kekayaan mental yang telah kita miliki itu akan mengkristal menjadi karakter, dan karakter itulah yang akan menjadi embrio dari kesuksesan sejati yang mampu kita ukir dengan gemilang.
Sumber : andriewongso.com

Jumat, 09 September 2011

Lampu Merah dan Kesempurnaan

Ketika kita akan pergi ke suatu tempat, entah dengan mobil, sepeda motor, atau kendaraan apapun, apakah kita menunggu sampai semua lampu hijau?

Tentu tidak.

Apakah kita juga menunggu sampai semua jalan sepi?

Tentu tidak.

Kita tentu akan terus melaju, berhenti ketika ada lampu merah, dan berjalan lagi ketika lampu hijau. Jika ada kendaraan yang menghalangi jalan, tentu kita akan mencari jalan untuk bisa melaluinya.

Ini sama seperti halnya jika ingin mencapai tujuan dalam hidup. Tidak perlu menunggu sampai semuanya sempurna

Ikhlas Untuk Memaafkan


Ikhlas memaafkan kesalahan  orang lain adalah suatu perbuatan yang tidak mudah, apalagi jika kesalahan yang dibuatnya adalah suatu kesengajaan untuk menyakiti hati kita. Tapi percayalah keikhlasan kita memaafkan orang yang berbuat salah pada kita akan membuat kita lebih tenang dalam menjalani kehidupan ini.
Sembilan tahun yang lalu aku adalah seorang ibu muda yang masih belajar untuk mengendalikan emosi dalam menjalani hidup berumah tangga. Aku dikaruniai seorang putri. Kami tinggal disalah satu kompleks perumahan yang rata2 dihuni oleh pasangan muda yang masing2 juga punya anak yang sebaya.
Mungkin ada saja orang yang selalu merasa lebih kaya, lebih alim, dan lebih pintar dari kita. Aku adalah orang yang bisa dibilang disepelekan oleh salah satu tetangga. Sering tahu2 diam dan nggak mau menyapa tanpa tahu aku salah apa, dan anakku selalu menangis jika bermain dan disitu ada anaknya dia.
Kubesarkan hati untuk selalu menyapanya, memberinya sesuatu untuk menghilangkan kebenciannya meski aku tak pernah tahu apa yang membuatnya marah atau membenciku, berdoa adalah kunci kekuatan hatiku, karena aku tahu Allah itu tidak pernah tidur, Allah maha melihat, juga maha mendengar.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri mungkinkah karena aku termasuk orang yang tidak mampu saat itu, tapi sudahlah kukubur semua prasangka burukku,karena aku nggak mau prasangkaku akan menjadi bumerang padaku dan keluargaku. Aku hanya yakin satu hal bahwa aku masih punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkanku yang selalu akan mendengar doa2 setiap hambanya.
Waktu terus berlalu, dan Tuhan pun menjawab doaku. Suatu hari dia datang dan meminta maaf padaku. Meski aku tahu mungkin masih ada perasaan malu untuk mengakui kesalahannya. Aku rasanya berada di ujung langit yang begitu tinggi, karana aku telah menundukkannya dengan dia datang ke rumah dan mengucap kata maaf di depanku.
Semula susah sekali melupakan begitu saja kesalahan2 dan sikap2 nya yang selalu menyepelekanku apalagi terhadap anakku. Meski sampai sekarang aku tak pernah tahu apa yang membuatnya bersikap begitu. Apakah karena dia merasa lebih dan lebih di bandingkan aku, aku tak pernah menanyakannya. Dan bagiku itu tak perlu kutanyakan.
Kutanggapi permintaan maafnya dengan senyuman, meski dalam dadaku berkecamuk perasaan yang tidak karuan, antara ya dan tidak. Karena sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat untuk kita bersabar menghadapi kelakuannya padaku dan anakku.
Untuk memunculkan keikhlasan dalam diriku tidaklah mudah. Beberapa malam susah pejamkan mata, susah khusyuk dalam sholat. Kusembunyikan p erasaan gundahku dari pandangan suamiku. Sampai suatu hari kusadari bahwa aku harus benar2 ikhlas memaafkannya, baru kurasakan ketenangan dalam hidup. Kuhilangkan perasaanku yang merasa menang atas permintaan maafnya padaku.
Aku yakin jika kita selalu ikhlas memaafkan kesalahan orang lain, kita akan selalu menemukan kemudahan, paling tidak untuk ketenangan batin kita, agar tidak selalu diselimuti oleh dendam.
Dan satu yang paling penting adalah kekuatan doa dan kesabaran adalah kunci dari keikhalasan untuk memaafkan setiap kesalahan

Mengendalikan Amarah Dalam Jiwa


Dulu, aku orang yang bersifat pemarah. Aku tidak bisa meredam amarahku setiap hari. Ayahku menyadari hal ini.
Untuk mengurangi rasa amarahku, Ayahku memberikan sekantong paku dan mengatakan kepadaku agar aku memakukan paku itu ke pagar di belakang rumah tiap kali aku marah.
Hari pertama aku bisa memakukan 48 paku ke pagar belakang rumah. Namun secara bertahap jumlah itu berkurang. Aku menyadari bahwa lebih mudah menahan amarah ketimbang memaku paku ke pagar. Akihrnya aku bisa menahan dan mengendalikan amarah ku yang selama ini telah memburuku. Aku memberitakukan hal ini kepada Ayahku.
Ayahku mengatakan agar aku mencabut satu paku di pagar setiap hari dimana aku tidak marah. Hari-hari berlalu dan tidak terasa paku-paku yang tertancap tadi telah aku cabut dan lepaskan semua. Aku memberitahukan hal ini kepada Ayahku bahwa semua paku telah aku cabut.
Ayah tersenyum memandangku, dan ia menuntunku ke pagar. Dan berkata “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas.”

Aku menyadari hal ini bahwa aku setiap kali marah aku teringat pada orang yang aku dendam tersebut. Ayah tambah berkata “Seperti lubang ini … di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu … Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada …dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik …”
Terima Kasih Ayah, kini aku dapat meredam dan mengendalikan amarahku setiap saat dan setiap waktu.